Identifikasi Karbohidrat
Hidrolisis sukrosa
Sukrosa
mempunyai sifat memutar cahaya terpolarisasi ke kanan. Hasil hidrolisis sukrosa yaitu campuran
glukosa dan fruktosa disebut gula invert. Dasar
reaksinya adalah
disakarida jika diberi asam lalu dipanaskan akan terhidrolisis menjadi 2
molekul-molekul monosakarida. Sukrosa oleh HCl dalam keadaan panas akan
terhirolisis, lalu menghasilkan glukosan dan fruktosa. Fungsi penambahan HCl
ini adalah asam yang menghidrolisis disakarida. Penambahan HCl akan mempengaruhi pH larutan, hal ini ditunjukkan
dengan kertas
indikator universal yang bernilai 1. Setelah terjadi proses hidrolisis sukrosa oleh HCl, larutan ditambahkan NaOH agar suasana menjadi netral sehingga reaksi
hidrolisis berhenti. Hal ini
menyebabkan uji Benedict dan uji Seliwanoff yang sebelum hidrolisis memberikan
hasil negatif menjadi positif. Uji Barfoed menjadi positif pula dan menunjukkan
bahwa hidrolisis sukrosa menghasilkan
monosakarida.
|
Sukrosa ----------- Glukosa + Fruktosa
Hidrolisis amilum
Pada
percobaan ini amilum + HCl kemudian dipanaskan maka akan terjadi hidrolisis
amilum secara bertahap:
Amilum + HCL
|
à
|
Amilodekstrin
|
à
|
Eritrodekstrin
|
à
|
Akroodekstrin
|
à
|
Maltosa
|
à
|
Glukosa
|
(+ Iod)
|
(+ Iod)
|
(+ Iod)
|
(+ Iod)
|
(+ Iod)
|
(+ Iod)
|
|||||
Biru
|
Ungu
|
Merah
|
Tidak Berwarna - - - - - Tidak Berwarna
|
|||||||
HCl berfungsi sebagai
asam yang akan menghidrolisis amilum. Kemudian dipanaskan bertujuan untuk
memecah molekul menjadi lebih kecil sehingga mudah dihidrolisis. Penetralan dengan NaOH bertujuan untuk
menghentikan proses hidrolisis, sehingga campuran tersebut tidak kehilangan
sifat gulanya.
Uji Reaksi Karbohidrat
1. Uji Fehling
Pada
prinsipnya, pereaksi fehling [Fehling A(CuSO4) + Fehling B(campuran
NaOH dan natrium tartat)] merupakan
oksidator lemah (pereaksi anorganik) yang
positif ketika menghasilkan warna
merah bata setelah dilakukan proses pemanasan ketika bereaksi dengan aldehid
atau gula pereduksi. Hal yang menyebabkan dihasilkannya endapan merah bata ini
karena ini berasal dari Fehling yang memiliki ion Cu2+ direduksi
menjadi ion Cu+ yang dalam suasana basa akan diendapkan berwarna
merah bata (Cu2O).
a. Monosakarida
Pada praktikum dilakukan uji fehling pada monosakarida yang menghasilkan endapan merah bata yang menunjukan hasil yang positif. Hal ini dikarenakan monosakarida mengandung gugus aldehid dan keton, monosakarida pun merupakan reduktor kuat yang akan bereaksi positif dengan pereaksi organic fehling yang merupakan oksidator lemah.
b.
Disakarida
Uji
fehling yang dilakukan pada sukrosa. Sukrosa merupakan dimer dari dua molekul
monosakarida yang berbeda yaitu D glukosa(bentuk piran), dan D fruktosa(bentuk
furan) melaui ikatan glikosida. Uji fehling pada Sukrosa sebelum dihidolisis
menghasilkan larutan berwarna hijau daun, yang menunjukan hasil yang negatif, hal ini dikarenakan
sukrosa tidak dapat mereduksi pereaksi
fehling yang tidak memiliki lagi gugus aldehid bebas. Sedangkan
hasil yang positif didapat setelah hidrolisis karena sukrosa menjadi
monosakaridanya merupakan gula pereduksi dan bereaksi dengan fehling.
c.
Polisakarida
Pada reaksi uji fehling dengan amilum sebelum
hidrolisis menghasilkan larutan yang tetap berwarna biru tua, hal ini
disebabkan karena amilum merupakan polisakarida
yang tidak dapat bereaksi dengan Fehling. Amilum bukan gula pereduksi juga
tidak memiliki gugus aldehid dan keton bebas, sehingga tidak terjadi oksidasi
antara amilum dan larutan Fehling, maka tidak terbentuk endapan dan larutan
tetap berwarna biru setelah dipanaskan. Setelah proses hidrolisis amilum
menjadi maltose yang merupakan disakarida hasil uji fehling ini negatif karena disakarida pun
bukan merupakan gula pereduksi dan tidak memiliki gugus aldehid bebas maka dari
itu hasil uji fehling dari hidrolisis polisakarida sama dengan hasil disakarida
yaitu larutan menjadi berwarna hijau daun.
2.Uji Moore
Uji moore bertujuan
untuk mengetahui adanya gugus alkali pada karbohidrat. Pereaksi moore
menggunakan larutan basa yaitu NaOH yang berfungsi sebagai sumber ion OH-
yang akan berikatan dengan rantai aldehid dan membentuk aldol aldehid (aldehida
dengan cabang gugus alkanol) yang berwarna kekuningan. Pemanasan bertujuan
untuk membuka ikatan karbon dengan hidrogen dan menggantikannya dengan gugus OH-.
Reaksi ini disebut juga reaksi pendamaran. Dari hasil praktikum
didapatkan hasil yang positif pada semua reaksi kecuali pada sukrosa.
Seharusnya semua menghasilkan hasl yang positif karena tiap molekul karbohidrat pastilah memiliki gugus
alkali, hasil negatif
pada sukrosa kemungkinan karena pemanasan yang belum
sempurna.
3.Uji
Benedict
Uji
benedict bertujuan untuk menunjukan adanya gugus karbonil pada karbohidrat, uji
ini dilakukan pada karbohidrat (gula) pereduksi (yang memiliki gugus aldehid
atau keton bebas). Pada uji benedict ini didasarkan pada reduksi Cu2+ yang berwarna biru menjadi Cu+ oleh gugus aldehid atau keton
bebas dalam suasana alkalis memebentuk Cu2O yang berwarna merah
bata, yang dijadikan indikasi reaksi positif pada uji ini.
Pada
uji ini karbohidrat yang diuji yaitu glukosa, sukrosa, amylum, hasil hidrolisis
amylum dan hasil hidrolisis sukrosa. Uji ini seharusnya memberikan hasil
positif terhadap glukosa, hasil hidrolisis sukrosa dan hasil hidrolisis amylum.
Hal ini dikarenakan pada glukosa terdapat gugus aldehid sehingga glukosa
merupakan senyawa monosakarida jenis aldosa dan merupakan gula pereduksi yang
akan mereduksi ion Cu2+
menjadi Cu+.
Sedangkan
pada hidrolisis sukrosa seharusnya didapatkan campuran D-glukosa dan D-fruktosa
yang keduanya merupakan gula pereduksi hanya saja pada fruktosa merupakan
monosakarida jenis ketosa, sehingga hasil hidrolisis ini akan memberikan hasil
positif pada uji benedict ini, begitu pula pada hasil hidrolisis amylum, jika
amylum terhidrolisis total maka akan menghasilkan D-glukosa, sehingga akan
memberikan hasil positif pada uji ini. Namun pada percobaan ini tidak terbentuk
endapan yang berwarna merah bata hal ini mungkin dikarenakan proses hidrolisis
amylum yang tidak sempurna, sehingga belum dihasilkan D-glukosa.
Uji
positif ditandai dengan terbentuknya endapan merah bata, namun pada percobaan
endapan yang terbentuk berwarna orange kekuningan bukan merah bata, hal ini dimungkinkan karena endapan yang
terbentuk sangatlah sedikit sehingga sulit dalam pengamatan, selain itu
larutannya yang berwarna biru juga mempengaruhi dalam pengamatan warna endapan
yang terbentuk.
Pada
reaksi ini monosakarida jenis aldosa mudah mereduksi ion Cu2+ (dengan kata lain mudah dioksidasi) karena
berada dalam kesetimbangan dengan bentuk aldehid dalam rantai terbukanya,
selain itu meskipun fruktosa adalah monosakarida jenis ketosa, namun fruktosa mudah
teroksidasi karena dalam larutan basa fruktosa berada dalam kesetimbangan
dengan dua aldehiddiastereomerik.
Pada uji benedict ini sukrosa dan amylum
memberikan hasil negatif, yaitu tidak terbentuk endapan berwarna merah bata.
Ion Cu2+ yang berwarna biru tidak tereduksi menjadi Cu+ hal itulah yang menyebabkan warna
larutannya tetap berwarna biru. Menurut teori sukrosa tidak menunjukan
mutatorasi dan bukan merupakan gula pereduksi, sukrosa dalam air tidak berada
dalam kesetimbangan dengan suatu bentuk aldehida
atau keton, oleh karena itulah sukrosa memberikan hasil negatif pada percobaan
ini. Sedangkan pada pati, sekalipun terdapat glukosa rantai terbuka
pada ujung rantai polimer, namun konsentrasinya sangatlah kecil, sehingga warna
hasil reaksi tidak tampak oleh penglihatan.
4.Uji
molisch
Pada
pengujian karbohidrat dengan menggunakan uji molish, pertama-tama karbohidrat
yang akan diuji yaitu glukosa (monosakarida), sukrosa (oligosakarida) dan
amylum (polysakarida) masing-masing ditambahkan pereaksi molisch, yaitu
α-naftol dalam alkohol, sehingga terbentuk endapan berwarna putih yang semakin
banyak pada oligosakarida (amylum). α-naftol
merupakan indikator warna pada uji ini. kemudian larutan tersebut
ditambahkan asam sulfat pekat yang akan mendehidrasi senyawa karbohidrat
menjadi senyawa hidroksi metil furfural (pada Dehidrasi heksosa) atau menjadi
senyawa fulfural (pada dehidrasi pentosa). Yang kemudian senyawa fulfural
tersebut akan berkondensasi dengan α-naftol dalam pereaksi molish yang akan menghasilkan
cincin merah ungu yang kemudian dijadikan indikasi bahwa reaksi positif pada
uji ini, sedangkan warna hijau menunjukan reaksi negatif.
Selain
dilakukan terhadap glukosa, sukrosa dan amylum, uji ini juga dilakukan terhadap
hasil hidrolisis sukrosa dan hasil hidrolisis amylum.
Uji
ini bertujuan untuk adanya gugus karbohidrat sehingga menurut teoti uji ini
akan memberikan hasil positif untuk semua jenis karbohidrat baik Mono-, di-,
dan polisakarida. Namun pada percobaan semua karbohidrat menunjukan hasil
negatif terhadap uji molisch ini, pada percobaan tidak terbentuk cincin yang
berwarna ungu, yang terbentuk adalah endapan dengan larutan yang berwarna
coklat keruh. Kemungkinan hal ini terjadi karena perbandingan molish dan asam
pekat yang dimasukkan dalam tabung kurang tepat sehingga mengakibatkan reaksi
tidak berlangsung dan tidak terjadi gejal-gejala positif.
5.Uji barfoed
Uji
barfoed ini bertujuan untuk memisahkan antara monosakarida dan disakarida.
Pereaksi barfoed bersifat asam lemah dan hanya direduksi oleh monosakarida. Ion
Cu2+ (dari pereaksi barfoed) dalam suasana asam akan direduksi lebih
cepat oleh gula reduksi monosakarida daripada disakarida dan menghasilkan
endapan Cu2O berwarna merah bata. Disakarida (sukrosa dan laktosa)
sebenarnya dapat bereaksi. Dimana disakarida tersebut akan dapat dihidrolisis
sehingga bereaksi positif tetapi hal tersebut hanya dapat terjadi dengan
pemanasan yang lebih lama. Jika disakarida tersebut lebih lama pemanasannya,
maka kedua larutan disakarida tersebut juga akan dapat bereaksi. Dengan kata lain, untuk membedakan
monosakarida, disakarida, polisakarida tergantung berapa lama pemanasan.
Setelah dilakukan pemanasan semua bahan tidak bereaksi secara bersamaan.
Artinya hal ini disebabkan karena monosakarida dapat mereduksi lebih cepat
daripada disakarida dan polisakrida. Hal ini yang kemudian menunjukkan bahwa
pereaksi barfoed digunakan untuk membedakan antara monosakarida, disakarida dan
polisakarida. Dimana yang cepat mereduksi atau bereaksi adalah monosakarida.
Sementara yang membutuhkan waktu lama dalam pemanasannya sampai bisa bereaksi
adalah disakarida. Pada percobaan ini dengan menggunakan 5 ml reagen barfoed
yang ditambahkan masing-masing 1 ml larutan karbohidrat (glukosa, sukrosa,
amilum, hidrolisis sukrosa dan hidrolisis amilum). Dimana setelah dipanaskan
selama 2-5 menit diantara semua larutan karbohidrat tersebut tidak ada yang
bereaksi dan semua menghasilkan hasil yang negatif.
a.
Glukosa
Pada uji barfoed pada glukosa ini secara
teori, glukosa yang merupakan gula
pereduksi memiliki gugus aldehid, dimana gugus aldehid ini akan mereduksi ion
Cu menjadi Cu2O yang berupa endapan merah bata. Karena glukosa ini
merupakan monosakarida dan strukturnya yang sederhana sehingga bila diuji
dengan pereaksi barfoed langsung akan bereaksi membentuk endapan Cu2O.
Pada uji barfoed ini dilakukan pemanasan pada penangas dengan tujuan untuk
mempercepat dan menyempurnakan reaksi, sehingga reaksi berjalan cepat dan
sempurna. Akan tetapi berdasarkan percobaan, larutan tidak menunjukan hasil
yang positif, sedangkan seharusnya secara teori uji barfoed pada glukosa
seharusnya menunjukan reaksi positif.
b.
Sukrosa sebelum dan
setelah hidrolisis
Pada uji barfoed pada sukrosa sebelum hidrolisis ini secara
teori, sukrosa tidak memiliki gula pereduksi. Pada sukrosa walupun tersusun
oleh glukosa dan fruktosa, namun atom karbon anomerik keduanya saling terikat,sehingga pada setiap
unit monosakarida tidak lagi terdapat gugus aldehid atau keton yang dapat
bermutarotasi menjadi rantai terbuka. Hal ini menyebabkan sukrosa tak dapat
mereduksi ion Cu menjadi Cu2O. Berdasarkan percobaan uji barfoed
pada sukrosa menunjukan hasil positif,
hal ini sesuai teori bahwa sukrosa memang tidak dapat mereduksi pereaksi
barfoed.
Pada uji barfoed pada sukrosa setelah hidrolisis, secara teori
hidrolisis sukrosa menghasilkan monosakarida glukosa dan fruktosa. Glukosa yang
merupakan hasil hidrolsis sukrosa kemudian diuji dengan pereaksi barfoed.
Seharusnya glukosa yang merupakan hasil hidrolisis sukrosa karena memiliki
gugus aldehid. Gugus aldehid ini dapat mereduksi Cu2+ menjadi Cu2O
yaitu endapan merah bata. Sehingga seharusnya uji barfoed pada hasil hidrolisis
menunjukan hasil positif karena terdapat glukosa / monosakrida. Akan tetapi
berdasarkan percobaan larutan menunjukan hasil negatif.
c.
Amilum sebelum dan
setelah hidrolisis
Pada uji barfoed pada amilum sebelum hidrolisis secara teori,
pada amilum sekalipun terdapat glukosa rantai terbuka pada ujung rantai
polimer, namun konsentrasinya sangatlah kecil, sehingga warna hasil uji barfoed
tidak tampak oleh penglihatan. Sementara amilum termasuk dalam polisakarida
dimana pada amilum tersebut tidak terjadi endapan karena tidak adannya sifat
mereduksi pada amilum. Hal ini menyebabkan amilum tak dapat mereduksi ion Cu menjadi Cu2O.
Berdasarkan percobaan uji barfoed pada amilum menunjukan hasil negatif, hal ini
sesuai teori bahwa amilum memang tidak dapat mereduksi pereaksi barfoed.
Pada uji barfoed pada amilum setelah hidrolisis, secara teori
hidrolisis sempurna pada amilum menghasilkan glukosa. Glukosa yang merupakan
hasil hidrolsis amilum kemudian diuji dengan pereaksi barfoed. Seharusnya
glukosa yang merupakan hasil hidrolisis amilum karena memiliki gugus aldehid.
Gugus aldehid ini dapat mereduksi Cu2+ menjadi Cu2O yaitu
endapan merah bata. Sehingga seharusnya uji barfoed pada hasil hidrolisis
menunjukan hasil positif karena terdapat glukosa / monosakrida. Akan tetapi
berdasarkan percobaan larutan menunjukan hasil negatif. Hal ini dikarenakan
adanya kemungkinan pati tidak terhidrolisis sempurna sehingga hidrolisis pati
hanya menghasilkan disakarida dan tidak menjadi monosakarida sehingga tidak
memiliki gugus aldehid dan tidak membentuk endapan Cu2O.
6.Uji Amoniakal
a.
Glukosa
Uji Tollens merupakan salah satu uji yang digunakan untuk
membedakan senyawa aldehida dan keton. Secara teori glukosa yang memiliki gugus
aldehid akan mereduksi Ag+. Pereaksi Tollens adalah larutan perak nitrat dalam amonia. Pereaksi ini
dibuat dengan cara menetesi larutan perak nitrat dengan larutan ammonia sedikit
demi sedikit hingga endapan yang mula-mula terbentuk larut kembali. Hal
ini bertujuan untuk mencegah pengendap anion perak sebagai oksida pada suhu
tinggi. Amonia membentuk kompleks larut air dengan ion perak. Pereaksi
Tollens dapat dianggap sebagai larutan perak oksida (Ag2O). Aldehid
dapat mereduksi pereaksi Tollens sehingga membebaskan unsur perak (Ag). Bebasnya unsur Ag ini dapat diamati dengan terbentuknya
cermin perak. Kemudian dilakukan pemanasan pada penangas untuk menyempurnakan
dan mempercepat reaksi sehingga cincin perak yang dapat diamati dapat terlihat
dengan jelas. Akan tetapi berdasarkan percobaan, larutan
menunjukan hasil negatif terdapat adanya cincin perak. Hal ini dikarenakan
pemanasan yang dilakukan terlalu lama sehingga cincin perak yang seharusnya
terbentuk menjadi tidak terbentuk dan menjadi endapan Ag2O kembali.
b.
Sebelum dan setelah hidrolisis sukrosa
Pada
molekul sukrosa sebelum
hidrolisis terdapat ikatan antara molekul glukosa dan fruktosa,
yaitu antara atom karbon nomor 1 pada glukosa dengan atom karbon nomor 2 pada
fruktosa melalui atom oksigen. Kedua atom karbon terebut adalah atom karbon
yang mempunyai gugus –OH glikosidik, atau atom karbon yang merupakan gugus
aldehida pada glukosa dan gugus keton pada fruktosa. Oleh karena itu molekul
sukrosa tidak mempunyai gugus aldehida atu keton bebas, atau tidak mempunyai
gugus –OH glikosidik. Dengan demikian sukrosa tidak mempunyai sifat dapat mereduksi
ion-ion Ag+ menjadi Ag
bebas sehingga tidak akan terbentuk cincin perak pada uji sukrosa. Berdasarkan
percobaan uji amoniakal
pada sukrosa menunjukan hasil positif
terbentuk cincin perak, hal ini tidak sesuai teori bahwa sukrosa seharusnya tidak dapat mereduksi
pereaksi Cu2+
atau Ag+ .
Pada
uji amoniakal pada sukrosa setelah
hidrolisis, secara teori hidrolisis sukrosa menghasilkan monosakarida glukosa
dan fruktosa. Glukosa yang merupakan hasil hidrolsis sukrosa kemudian diuji
dengan pereaksi barfoed. Seharusnya glukosa yang merupakan hasil hidrolisis sukrosa
karena memiliki gugus aldehid. Gugus aldehid ini dapat mereduksi Ag+ menjadi Ag bebas sehingga akan terbentuk cincin perak.
Sehingga seharusnya uji amoniakal
pada hasil hidrolisis menunjukan hasil positif karena terdapat glukosa /
monosakrida yang mengandung aldehid.
Akan tetapi berdasarkan percobaan larutan menunjukan hasil negatif terbentuk cincin perak.
c.
Amilum sebelum dan
setelah hidrolisis
Pada uji amoniakal
pada amilum sebelum hidrolisis secara teori, pada amilum sekalipun terdapat
glukosa rantai terbuka pada ujung rantai polimer, namun konsentrasinya
sangatlah kecil, sehingga warna hasil uji amoniakal tidak tampak oleh penglihatan. Sementara amilum
termasuk dalam polisakarida dimana pada amilum tersebut tidak terbentuk cincin perak karena tidak adanya
sifat mereduksi pada amilum. Hal ini menyebabkan amilum tak dapat mereduksi ion Ag+ menjadi Ag bebeas yang dapat dilihat terbentuknya cincin perak.
Berdasarkan percobaan uji amoniakal
pada amilum menunjukan hasil negatif, hal ini sesuai teori bahwa amilum memang
tidak dapat mereduksi Ag+
sehingga tidak akan terbentuk cincin perak.
Pada uji amoniakal pada
amilum setelah hidrolisis, secara teori hidrolisis sempurna pada amilum
menghasilkan glukosa. Glukosa yang merupakan hasil hidrolsis amilum kemudian
diuji dengan uji amoniakal.
Seharusnya glukosa yang merupakan hasil hidrolisis amilum karena memiliki gugus
aldehid. Gugus aldehid ini dapat mereduksi Ag+ menjadi Ag bebas yaitu terbentuknya cincin perak.
Sehingga seharusnya uji amoniakal pada
hasil hidrolisis menunjukan hasil positif karena terdapat glukosa /
monosakrida. Akan tetapi berdasarkan percobaan larutan menunjukan hasil
negative tidak terbentuk cincin perak.
Hal ini dikarenakan adanya kemungkinan pati tidak terhidrolisis sempurna
sehingga hidrolisis pati hanya menghasilkan disakarida dan tidak menjadi
monosakarida sehingga tidak memiliki gugus aldehid dan tidak membentuk cincin perak.
RE
TOTO TOTO TOTO TOTO TOTO TOTO - T-shirt Design
BalasHapusTOTO titanium chainmail TOTO TOTO TOTO TOTO TOTO TOTO TOTO TOTO TOTO TOTO TOTO mens titanium watches TOTO TOTO TOTO TOTO TOTO TOTO TOTO TOTO TOTO TOTO TOTO TOTO TOTO TOTO TOTO TOTO TOTO used ford fusion titanium TOTO TOTO titanium white paint TOTO TOTO TOTO TOTO TOTO titanium easy flux 125 amp welder TOTO